JURNALBERITA24 - BTP hari ini bebas. Tidak tahu jam berapa ia dijemput oleh keluarga dekat dan sahabat karibnya. Entah apakah Vero ikut atau tidak. Yang pasti, BTP ini ditunggu-tunggu. Jutaan rakyat Indonesia tidak sabar menyambut kebebasan BTP yang baik itu. BTP itu orang yang baik. Biarkan Tjahaja Pulang, itu singkatan BTP. Tidak ada yang bisa melawan sinar. Kegelapan apa yang bisa memendarkan sinar?
Tidak ada. Bahkan si badut gelap busuk bau sampah itu pun sekarang mulai ketakutan. Kegelapan siap dihapuskan, gelapnya kota dengan jutaan makhluk astral terbang ke sana kemari, siap musnah oleh sinar dari Purnama yang sekeras matahari itu.
Sosok BTP adalah sosok yang luar biasa mempertontonkan segala sisi. Dari segi kemanusiaan, orang ini adalah orang yang pernah menjamin keseluruhan warga Jakarta, mengenai apa itu hidup layak. Janji bukan sekadar janji kosong seperti saat ini. Janjinya adalah sebuah harapan yang direalisasikan, bahkan sampai saat ini. Meski saat ini, janjinya banyak ditekan oleh si badut Ancol. Eh bukan. Badut pantai reklamasi.
Si badut pantai reklamasi itu benar-benar merusak apa yang sudah dikerjakan. Tapi serusak apapun, ada secercah pengharapan yang mereka dapatkan. Rakyat itu adalah BTP. BTP adalah rakyat. Yang dilawan oleh badut pantai reklamasi peresmi tempat cuci bak sampah ini adalah rakyat. Rakyat bersama BTP. Melawan BTP, artinya si badut pantai reklamasi ini sedang melawan rakyat Jakarta.
Koalisi gelap vs koalisi terang. Di Indonesia, rakyat dipermudah sekali dalam menentukan pilihan politik. Jarak antara kedua pemimpin ini sudah sangat jelas. Di manapun, baik dari skala kota, provinsi, sampai kepada nasional.
Skala pileg, pilgub sampai pilpres, Indonesia mudah. Hanya hitam dan putih. Kecuali Jawa Timur, dua-duanya orang baik. Tapi coba lihat di Sumatera Utara, Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat dan beberapa tempat yang penulis tidak tahu, itu serba hitam putih.
Antara pengayom dan galak bener. Antara badut dan BTP. Antara Ganjar dan… Antara Ridwan Kamil dan… Ah. Hahaha. Sudah jelas sekali kan? Jadi sebenarnya bicara tentang pendidikan politik di Indonesia, seolah kita ini masih kecil dan masih dasar.
SD mengajarkan salah benar, belum ada diskusi. Maka secara jelas, kita sudah tahu bahwa siapa yang dipilih. Siapa? Ya orang baik lah yang harusnya dipilih. Tapi kenapa BTP tidak terpilih? Karena ada pendidikan-pendidikan buruk yang diajarkan, yang memandang orang dari SARA.
Ini adalah kurikulum politik yang harus dibuang. Sayangnya, ada pemangku kepentingan yang merasa diuntungkan dengan politisasi SARA ini. Tapi begini, akhirnya rakyatnya sendiri lah yang mendapatkan buah simalakama. Pilih salah, gak pilih salah. Ya sekarang buktinya. BTP dipenjara.
Ketika BTP selalu di hati dan selalu mendapatkan tempat di hati rakyat Indonesia, badut pantai reklamasi ini menjadi sosok yang di maki-maki. Kasihan sekali. Tapi ya itulah jalan hidup seseorang. Eh.. Bukan seseorang, tapi sese-badut.
Jalan hidup badut itu memang hanya bisa ditertawakan, ia harus terus melucu. Kalau tidak lucu, ya akan dibuang dan dijadikan sampah. Peresmi truk sampah ini benar-benar kasihan sekali. BTP selalu di hati.
Bahkan 1 tahun 9 bulan ia dipenjara, tidak menjadikan orang ini lemah. Orang ini semakin tabah. Berubah menjadi yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih tegar. Ini karakter yang ditakuti oleh badut pantai reklamasi.
BTP menjadi lebih baik, karena badut selalu tidak pernah menjalankan kebaikan. BTP menjadi lebih kuat, karena badut itu tidak pernah kuat. Ya kuat sih, kuat menanggung makian. Hahaha. Kemudian BTP menjadi lebih tegar, jauh lebih tegar dari si badut reklamasi ini.
Pak BTP, kami bersamamu. Meski saya tidak pernah merasakan kebaikanmu secara langsung di ibu kota, saya merasakan semangat dan perjuanganmu melawan para politisi dan birokrat korup nan biadab itu. Terima kasih Pak BTP untuk pendidikan politik di Indonesia.
Sekarang Anda bebas, sinarmu sudah semakin terang benderang, menyibak seluruh tabir kebusukan politisasi dan pencitraan busuk Tuan Pribumi Kocak.
Selamat pulang, Pak BTP.
Begitulah pulang-pulang.
#01IndonesiaMaju
#JokowiLagi
SUMBER : SEWORD




